Resensi Buku Bahasa Indonesia

 Resensi Buku digital

Nama: Yasmin Noer Fadillah
Kelas: XI-2
Tugas: Bahasa Indonesia 



1. Identifikasi Buku: 

- Judul Buku: Kali Ketigalah yang Memesona 

- Penulis: Lailah Gifty Akita

- Penerbit: Jodi Renee Thomas 

- Kota Terbit: Jakarta

- Tahun Terbit: 19 Oktober 2020

- Jumlah Halaman: 6-9

2. Sinopsis Cerita:

Cerita "Kali Ketigalah yang Memesona" berkisah tentang seorang ibu yang menghadapi tantangan dalam membiasakan anak balitanya makan sayuran, khususnya bayam. Anaknya menolak dan bersikeras hanya ingin makan nugget seperti teman-temannya. Sang ibu, yang tidak mau menyerah, menerapkan aturan "mencoba tiga kali" yang diajarkan ibunya saat ia kecil: mencoba suatu hal tiga kali sebelum memutuskan apakah menyukainya atau tidak. Melalui pendekatan sabar ini, anaknya akhirnya mulai menyukai bayam. Cerita ini juga menggambarkan bagaimana aturan tiga kali itu memengaruhi kehidupan sang ibu, membantunya mengatasi ketakutan dan tantangan dalam berbagai aspek hidup, termasuk menjadi penulis setelah mengalami kegagalan beberapa kali. Pada akhirnya, putrinya tumbuh menjadi remaja yang gemar sayur, berkat pendekatan ini.


3. Penilaian:

•Plus: 

1. Pesan Moral yang Kuat: Cerita ini menyampaikan pesan penting tentang ketekunan, kesabaran, dan menghadapi tantangan. Aturan "coba tiga kali" menjadi filosofi hidup yang memotivasi pembaca untuk tidak menyerah terlalu cepat.

2. Pengembangan Karakter yang Baik: Karakter ibu dalam cerita menunjukkan perkembangan yang jelas, dari frustrasi menjadi tekun, yang mengajarkan pembaca tentang pentingnya pendekatan positif dan konsisten dalam membesarkan anak.

3. Inspiratif: Cerita ini tidak hanya menyentuh soal makanan, tetapi juga tantangan hidup yang lebih besar, seperti mengatasi ketakutan dan kegagalan. Hal ini memberi inspirasi kepada pembaca untuk mencoba hal baru meski terasa sulit.


•Minus: 

1. Alur yang Sedikit Tertebak: Meskipun menyampaikan pesan positif, alur cerita agak terduga karena mengikuti pola umum di mana anak akhirnya belajar menyukai hal yang awalnya dibenci. Ini membuat cerita kurang menawarkan kejutan.

2. Keterbatasan Fokus pada Karakter Lain: Cerita ini sangat terfokus pada ibu dan sedikit sekali menggali karakter anak atau orang lain. Mungkin bisa lebih menarik jika ada eksplorasi lebih mendalam tentang dinamika keluarga atau sudut pandang anak.

3. Penyelesaian Terlalu Cepat: Perubahan anak dari menolak bayam menjadi menyukainya terasa terjadi terlalu cepat. Akan lebih realistis jika prosesnya lebih lambat dan melibatkan lebih banyak konflik atau tantangan, sehingga memberikan kesan lebih mendalam.

Comments

Post a Comment